Chaplaincy Forum BKPTKI Tahun 2018

Ditayangkan: Rabu, 27 Jun 2018 Ditulis oleh Sekretariat BK-PTKI

Berdasarkan pertemuan Chapalincy Forum di Universitas Maranatha tanggal 21-22 Mei yang lalu, maka didapati ada beberapa alasan yang menguatkan kesadaran para chaplain/lembaga kerohanian untuk mendisposisikan diri secara serius terkait dengan pelayanan kerohanian di kampus Kristen. Antara lain perihal relasi antara gereja pengutus dan kampus (dalam hal ini Yayasan), terkait dengan tata kelola. Demikian juga perihal tanggungjawab dan fungsi menjaga iklim/budaya spiritualitas kerja di kampus, serta menanamkan nilai-nilai universitas bagi segenap civitas akademika. Nampaknya, selama ini yang terjadi hampir dikebanyakan kampus Kristen adalah pengutusan sementara untuk Pendeta Kampus/Pendeta Universitas tanpa ada pembekalan dan job diskripsi yang jelas oleh pihak pengutus. Sehingga, seolah dibiarkan untuk mencari sendiri bentuk dan pola pelayanannya, padahal disatu sisi pendeta kampus/lembaga kerohanian kampus diharapkan menjadi penjaga gawang nilai-nilai, dan visi-misi universitas.

Salah satu sumber sharing di Bandung, adalah hasil penelitian Dosen Fakultas Manajemen UK Maranatha, yakni Dr. Jahja Hamdani Widjaya dan Budi Hartadi Kusuma,M.M tentang tata kelola kerohanian kampus di Sanata Darma Yogyakarta, serta fungsi Romo Pamong di dunia pendidikan. Seorang Romo memang diutus untuk menjadi penjaga identitas dan misi universitas. Artinya justru menjadi penentu arah gerak kehidupan kampus, terutama menyangkut nilai-nilai kekristenan yang dihayati oleh pegawai dan mahasiswa. Adapun Campus Ministry selanjutnya menjadi penyelenggara implementasi nilai-nilai tersebut kepada sivitas akademika. Pertanyaan yang menjadi pergumulan dan masih akan dipercakapkan hingga semakin jelas serta mengerucut, yakni perihal apakah posisi Pendeta Kampus melalui lembaga Kerohanian Kampus juga sebagai penjaga identitas dan visi-misi universitas? Jika demikian, maka spiritualitas kampus menjadi bagian yang mendasar dan serius untuk diperhatikan.

Ketika spiritulitas dan nilai-nilai-nya dianggap sebagai bagian dari identitas diri Kampus Kristen, dan kerohanian kampus/Pendeta Kampus dianggap sebagai yang berperanan penting untuk penyelenggaraannya, maka sudah semestinya keberadaan Pendeta Kampus/kerohanian kampus bukan sekadar pelengkap atau penunjang penyelenggaraan Universitas Kristen. Sebaliknya, menjadi penentu arah dan gerak kehidupan kampus yang menghidupi nilai-nilai keutamaan masing-masing kampus. Kesadaran ini mendorong Chapalincy Forum untuk juga memiliki pengetahuan, serta strategi implementasi nilai-nilai spiritualitas bagi civitas akademika, yang selanjutnya akan menjadi budaya kampus tersebut. Setidaknya dengan menghayati nilai-nilai tersebut, maka warga kampus dapat terarah dalam religiousitas hidup sehari-harinya sebagai insan akademik.

Kehidupan religiousitas insan akademik yang dimaksud yakni seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, pelaksanaan ibadah dan kaidah keagamaannya, serta seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya itu dipraktekan dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain religiusitas berarti bagaimana aspek religi (agama) tersebut dihayati oleh individu di dalam hatinya (Mangunwijaya, 1982). Untuk ini, pertemuan khusus di Makasar diadakan dalam rangka menemukan pola implementasi nilai-nilai universitas dan menggumuli isu-isu strategis pelayanan chaplaincy ke depan. Sebagai pemantik ide percakapan terkait dengan aspek religiusitas dan internalisasi nilai-nilai spiritualitas kampus, yakni Romo. Dr. Ir. Paulus Wiryono, SJ. Beliau adalah mantan Rektor Universitas Sanatha Darma yang bersedia untuk berbagi pengalaman terkait dengan penanaman nilai-nilai spiritualitas bagi insan akademik.

 

Term of Reference Chaplaincy Forum BKPTKI Tahun 2018